Sejarah Desa

Riung merupakan salah satu swapraja hasil bentukan pemerintah Kolonial Belanda. Swapraja Riung terbentuk dari 3 Hamente/ Dhalu, yaitu ; Dhalu Riung, Tadho dan Lengkosambi. Dahulu sistim pemerintahan yang berlaku adalah “ Perkampungan”. Pemimpin yang mengepalai perkampungan disebut “Kepala Kampung”. Adapun tokoh-tokoh yang pernah menjabat kepala kampung Wangka adalah sebagai berikut : yang pertama Bapak Wara dengan masa kepemimpinannya ± 3 tahun, selanjutnya diganti oleh Bapak Yoseph Dhona Wara dengan masa kepemimpinannya ± 3 tahun, lalu diganti lagi oleh Bapak Yoseph Zebar Wara dengan masa kepemimpinannya ± 3 tahun, dalam rentan waktu tersebut Kepala kampong diganti lagi oleh Bapak Mas dengan masa kepemimpinan ± 2 tahun, dan selanjutnya diganti oleh Bapak Dominikus Diwu dengan masa kepemimpinannya ± 3 tahun. Dan pada tahun 1946, Nomenklatur diubah menjadi “Desa”, dengan pemimpin disebut “Kepala Desa”. Adapun tokoh-tokoh yang pernah menjabat kepala Desa Wangka adalah sebagai berikut : Bapak Yoseph Zanda Nebho lama jabatan 17 tahun, Bapak Thomas Tolla masa jabatannya 2 tahun, Bapak galus Ghagho masa jabatannya 3 tahun, Bapak Yoseph Kose masa jabatanya 18 tahun, Bapak Bonefasius Bolong masa jabatan 3 tahun, Bapak Simon Redho masa jabatannya 2 tahun, Bapak Matias Mbing masa jabatan 2 tahun, Bapak Benediktus Beza masa jabatannya 2 tahun (PJS), Bapak Lambertus Kambe masa jabatannya 6 tahun, Bapak Alexander Wuni masa jabatan 6 tahun, Bapak Donatus Madhu, S.Sos masa jabatannya 6 tahun , Bapak Hendrikus Masa masa jabatannya 6 tahun dan kini Desa Wangka dipimpin oleh Bapak Miikael Mingge ± 1.5 Tahun, Bapak Kristoforus Emanuel Mbing untuk periode 6 tahun kedepan. Pada masa kepemimpinan Bapak Alexander Wuni; terjadi pemekaran desa yakni dari desa Wangka (Desa Induk) dimekarkan menjadi 2 Desa yaitu Desa Wangka Selatan dan Desa Rawangkalo dan di tahun 2016 Desa Rawangkalo juga telah melahirkan Desa pemekaran menjadi 3 Desa yakni, Desa Rawangkalo ( Induk), Desa Persiapan Rawangkalo I dan Desa Persiapan Rawangkalo II dan belum di Defenitif . Dalam kurung waktu ± 4 Tahun ( Masa kepemimpinan Bapak Alexander Wuni); di wacanakan lagi pemekaran desa dari desa induk (Wangka) dimekarkan menjadi 2 Desa yaitu : Desa Wangka dan Desa Wangka Selatan dan di tahun 2016 Desa Wangka Selatan juga telah melahirkan Desa pemekaran menjadi 2 Desa yakni, Desa Wangka Selatan ( Induk), Desa Persiapan Waka Manga belum di Defenitif. Pada masa kepemimpinan Bapak Stanislaus Lagi (Penjabat Kepala Desa Wangka) tahun 2016; Desa wangka juga telah melahirkan 1 Desa pemekaran menjadi 2 Desa yakni, Desa Wangka (Desa Induk) dimekarkan dan Desa Persiapan Wangka Barat tetapi belum di defenif desa pemekerannya. Dengan demikian Desa Wangka yang dahulunya adalah satu Desa ( Tana Sa Watu K`ne) kini menjadi 3 Desa Induk dan 4 Desa persiapan. Dalam perjalanan pemerintahan Desa , Desa Wangka telah mewariskan beberapa upacara/seremonial budaya sebagai berikut :

1. ROTAS : Poka Kabha (Kerbau), untuk wasa mbako anak wina (Anak Putri tiba usianya untuk boleh memakai perhiasan adat/nasional. Proses melubangi telinga anak gadis, diresmikan dengan acara “Potong Kerbau”.

2. POTE LADHO : Poka Kabha (Kerbau), hanya berlaku bagi masyarakat yang mampu/Kaya.

3. MBAPU : Poka Kabha (Kerbau), Tahap lanjutan dari kegiatan POTE LADHO.

4. RES`O KUTUR : Poka Kabha (Kerbau), acara lanjutan dari ketiga kegiatan diatas; pratanda bahwa status social anak gadis diakui oleh umum.

5. DEP`A : Poka Kabha (Kerbau Jantan besar), untuk memberi makan bagi seluruh masyarakat yang dilakukan oleh orang mampu/kaya.

6. WERI NGADHU : Poka Kabha (Kerbau jantan besar), untuk memberi makan bagi seluruh masyarakat yang hadir dan sekaligus peletakan kayu cabang sebagai symbol kebangsawanan.

7. WERI TOPOK : Poka Kabha (Kerbau jantan besar), untuk membagi daging mentah kepada suluruh masyarakat yang hadir pada acara tersebut.

Dari ketujuh acara seremonial diatas, ada beberapa tokoh Wangka yang tercatat telah mampu melaksanakan Ritus Adat tesebut, yakni :

1. Suku Azang ; nama Tokoh : Nebho Zangga, Sina Imba dengan acara Dhepa

2. Suku Zea ; nama Tokoh : Ghuzing Dongge, Ramba Peti, Bhandu Nggalu dengan acara Dhepa.serta nama Tokoh; Warang Oka, Repe Wekak, Pangga Dari dengan acara Weri Nagdhu.

3. Woko(Kampung) Tazo ; nama Tokoh ; Nadeng, Bhinga dengan acara Dhepa.

4. Woko(Kampung) Watuling; nama Tokoh; Dhona, Rebhung,Rendok, Suli Oka, Manggu dengan acara Dhepa, sedangkan Wius dengan acara weri Topok

5. Woko Mbarumbawu : nama Tokoh; Lezo Rengge, Nggona Toge dengan acara Weri Ngadu, sedangkan Tena, Pandu Belo dan Mbozang dengan acara Dhepa.

Hal tersebut diatas menggambarkan bahwa tingkat kemapuan ekonomi keluarganya telah mencapai standar. Dalam perkembangan zaman dengan perubahannya kita ditantang untuk selalu dan dapat menyesuaikan diri terhadap tututan zaman. Untuk itu dibutuhkan para pemimpin desa/kepala desa beserta stafnya senantiasa dapat mengikuti perubahan zaman dan tuntutannya.